
Idealisme hanya untuk LELAKI SEJATI!!
Malam itu aku berjalan kedinginan, sambil menghindar dari berondongan airmata tangisan langit yang seakan mencurahkan kegundahan hatinya akan carut-marutnya situasi alam saat ini.
Tiba-tiba aku dikagetkan akan jerit pekik sekelompok putra-putri “Ibuku” yang meneriakkan simbol-simbol kebenaran dan nama Tuhan. Tangan kirinya berlumur darah, tangan kanannya menghunus pedang yang berujung bengkok serta membara kuning merah panas. Dadaku terasa sesak tersedak asap pedangnya yang terbakar amarah kebencian. Aku berulangkali ingin muntah karena mencium aroma mulutnya yang selalu berteriak bagaimana suci dan benarnya dia. Bagaimana Tuhan merestui setiap darah yang mereka tumpahkan di tubuh “Ibuku” tercinta ini. Tak terasa airmataku menetes menyatu dengan airmata langit yang seakan melubangi tubuhku yang semakin ringkih ini. Kurasa..
Aku palingkan wajahku. Aku melihat sekelompok putra-putri Ibuku yang kulihat wajahnya penuh kekecewaan berusaha merobohkan pagar “Ibuku”. Aku berteriak lantang keras menggelegar, “JANGAAAN!!” Tapi mereka semakin menggoyang keras dan “KRIIET” miringlah pagar tersebut. Aku berlari tuk menahan agar pagar tersebut tetap tegak dan berwibawa. Sambil menahan dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, aku bertanya kepada mereka, “mengapa kalian melakukan ini?” Tuk sesaat mereka menghentikan gempurannya, dan tanpa berucap, mereka menunjuk ke sebuah bangunan.
Darahku terkesiap! Sekelompok orang gendut yang susah bernafas berebut menghisap darah “Ibuku!” . Bentuknya pun bermacam-macam. Ada yang hitam ada yang putih. Ada yang besar ada yang kecil. Ada yang tinggi ada yang pendek. Ada tua ada muda. Pria dan wanita. Pokoknya berbagai jens. Bahkan diantaranya adalah putra-putrinya sendiri. Tapi mereka semua punya kesamaan. Gendut dan susah bernafas. Mungkin udara pun malas masuk ke paru-paru mereka. “Ibuku” makin tak berdaya akan hisapan orang-orang itu. Saat “Ibu” melenguh kesakitan, mereka tertawa makin keras. Putra mana yang hanya diam bila Ibunya disakiti? Serta merta aku berusaha menghentikan mereka. Mulai lewat tendangan, pukulan bahkan apa yang berada didekatku aku lemparkan. Apa daya.. Tembok mereka terlalu kuat perkasa bagi tenagaku yang payah ini. Aku berpikir.. Aku butuh bantuan!
Aku berteriak keras. TOLONG!!! TOLONG IBU!! Tapi bantuan dari putra-putrinya yang kuharapkan tak kunjung datang. Mereka terlalu masyuk mendengar dentuman musik disco sambil menari dansa. Lupa akan budaya Ibunya. Lupa dengan karya leluhurnya. Bahkan mereka justru menertawakanku yang berkelojotan lumpur tak berdaya dengan pakaian sobek berlumur darah jingga. Beberapa meludahi mukaku yang berjuang mati-matian membela Ibu mereka. Ibu kita semua.
Dalam keputus asaan, sayup-sayup aku mendengar tawa hina riang yang aku yakin bukan dari putra Ibuku. Dan, benar! Tetangga Ibuku menertawakan aku. Menertawakan semua putra-putri Ibuku. Yang lebih menyakiti hatiku, mereka kentut di wajah Ibuku secara terang-terangan. Airmataku jatuh semakin deras. Melebihi derasnya hujan malam ini. Teriakan amarahku semakin keras. Melebihi guntur yang menggelegar malam ini.
Aku telentang…
Aku menangis..
Adakah diantara saudara-saudariku yang tergugah jiwanya..
Adakah diantara saudara-saudariku yang kembali meluap-luap semangatnya..
Adakah diantara saudara-saudariku yang terbakar amarahnya..
Mari bantu aku tuk selamatkan IBU KITA TERCINTA..
November 21, 2008 pukul 5:20 pm
terusin dong blog-nya jangan berhenti
ganbate !!!
Januari 7, 2009 pukul 12:27 pm
thanks Mr. Panggiring..
karena kesibukan yang luar biasa, blog ini terhenti beberapa bulan..
keep our spirit still burning..!!
KOBARKAN SEMANGAT ANTI KEMUNAFIKAN!!!
Januari 19, 2009 pukul 8:42 am
Salam kenal..saudara sebangsa setanah air.
Mak Nyesss..rasanya menemukan blog yg menggugah jiwa yg sedih.
betapa tidak, keBhinekaan dan Pancasila saat ini terasa tidak bergaung lagi. Sebaliknya, semua simbol-simbol asing menggeruduk melanda negeri ini. Miris rasanya, bumi nusantara sudah dijajah imperialisme baru. Bukan agama, tetapi “politisasi agama”. Budaya asing dipertuhankan. Budaya sendiri yg adiluhung dianggap sumber bencana kemusrikan, musibah keterbelakangan. Sejauh inikah kemunafikan bangsa. Menangis ibu pertiwi ini, leluhur bangsa mengelus dada, melihat anak turunnya sudah terlena, ora eling dan waspadha. Arwah Para pahlawan merana gusar, tak berart lagi darah tertumpah di bumi ini. pantas saja, negeri dilanda bencana gempa, banjir, kekeringan, wabah paceklik dan segala penderitaan lain.
mari membangun bangsa yg berbudi pekerti luhur, dgn sisa-sisa kekuatan generasi bangsa yg masih ada.
salam sejati
Rahayu
sabdalangit’s web