
Pentjarian
Perlahan kubuka mata yang penuh dengan upil mata ini, ketika jemari halus mengelus-elus dadaku yang telanjang. Aku masih terbawa sisa-sisa mimpi semalam. Sayup-sayup kudengar suara merdu bidadari surga firdaus yang sedikit mendesah diiringi dengan senyumnya yang khas. Wajahnya yang dibungkus rukuh warna hijau daun, memaksaku segera bangun walau saat kulihat jendela, langit masih gelap. Segelap warna-warni kehidupan ini. Warna-warni monopoli satu warna saja.. Hitam. Seribu kali bahkan mungkin sejuta kali, tak bosannya dia selalu menggelar sajadah yang wangi untukku, namun tak aku gubris, melirikpun tidak. Memang dasar Pria Dengan Kepala Batu. Karena kurasa Tuhan tak butuh persembahan. Dia begitu Agung, begitu Kasih, begitu Damai. Tuhan tak berharap apapun. Apalagi dari aku yang hina ini. Setiap aku melihat orang berdoa, aku selalu melihat mereka mendongak ke atas dan menengadahkan tangan mereka. Bahkan seluruh duniapun melakukannya bila ia sedang berdoa. Aku rasa, kepala mendongak menandakan bahwa mereka kira Tuhan ada diatas. Tangan menengadah menandakan mereka mengira Tuhan akan memberikan sesuatu layaknya mahklukNya. Dan yang lebih fatal lagi, mendongak dan menengadah menandakan mereka mengira-ngira/mendeskripsikan bentuk Tuhan!! Orang Jawa mengatakan “Pangeran ngono, adoh tanpa wates, cedhak tanpa senggolan”. Artinya : Tuhan itu jauh tanpa batas, dekat tanpa bersentuhan. Suatu bahasa yang menurut saya perfect. Mungkin karena inilah banyak yang menganggap Pria Dengan Kepala Batu tak berTuhan. Salam damai…