
Kejujuran Nafasku, Kebenaran Langkahku
Mataku tetap bergeming, tatkala perutku mulai menyanyikan dengung musik kelaparan. Kepalaku yang digantungi rambut setengah senti terus menahan tangis yang teriakannya semakin keras dan memilukan. Kakiku tetap melangkah dan menapak tanpa alas bahkan sandal jepit sekalipun. Kuhirup udara busuk bercampur sisa solar dari bus yang sopirnya terlalu bersemangat menginjak pedal gas karena diburu setoran dari juragan. Pekikan semangat para marketing asongan yang merayuku tuk merogoh kocekku semakin dalam, semangat dan ketangkasan mereka membuatku kagum sedikit sungkan akan semangat yang berapi-api tanpa terpengaruh oleh api usia mereka yang semakin redup. Mataku tertuju pada puluhan bahkan ratusan pemuda pemudi mambawa cawan dan berpakaian mengenaskan yang menyanyikan hymne penderitaan hingga membuat orang disekitarnya melemparkan isi dompetnya, padahal aku tahu pasti bahwa hasil mereka dari cara menipu dengan atas nama iba tersebut jauh melebihi gaji yang kuterima selama setahun. Mual melihatnya!! Bus berhenti dan kakiku melangkah turun saat kulihat penjual koran memampang dagangannya yang sarat akan kabar politik busuk pekat bangsa ini!! Politik, intrik dan sikut sana sini yang makin menemukan angin segar bagi para pelakunya. Sambil duduk terdesak diantara penumpang aku terdiam, pikirku menerawang lama setengah jauh. Ketika para ulama alias brahmana saling meludah satu sama lain dengan atas nama Sang Pencipta. Ludahnya begitu basin dan memuakkan walaupun aku tak sempat menciumnya. Saling memamerkan pakaian putih dan sorban mereka. Pakaian yang memendarkan cahaya berkilau menyilaukan, hingga yang melihat terpaksa menundukkan mata mereka. Aku ingat saat aku dengan kenekatanku ini tanpa permisi merobek baju mereka itu. Aku terkejut, karena dibalik baju dan sorban mereka, aku melihat ribuan tikus dan kecoak saling berhubungan badan sambil tertawa terbahak-bahak! Tak sadar aku memuntahkan kembali gado-gado kesukaanku saat aku mencium bau busuk yang melebihi busuknya ketiak Iblis!! Seketika segala rasa sungkan, respect dan apalah itu namanya, luntur habis tak tersisa. Tatkala aroma kemunafikan menyengat dan memukuli hidungku. Aku ingat saat itu. Aku ingat. Lekat. Amat sangat lekat. Saat aku ingin muntah karena teringat baunya saja, kondektur berteriak-teriak kesetanan mengungatkan aku untuk bersiap turun. Setengah melompat tapi tidak memakai bumbu berguling, aku turun dari bus penuh karat itu. Lambaian tangan dan senyum paling lebar kumainkan menyambut pijakan kakiku di ladang tembok megah tempatku mengabdi pada negara ini agar aku bisa mencukupi rengekan raga busuk ini. Sedikit aku memicingkan mata tuk bersiap melihat dan melihat lagi ironi pada hari ini. Ironi yang terpaksa aku lihat setiap hari.. Semoga ironi ini cepat berakhir.. Doamu saudaraku.. Semoga bangsa ini kembali menemukan sikap dan cita-cita luhur para leluhur.. Amin..