Lamunan dan hanya itu

Januari 9, 2009
Kejujuran Nafasku, Kebenaran Langkahku

Kejujuran Nafasku, Kebenaran Langkahku

Mataku tetap bergeming, tatkala perutku mulai menyanyikan dengung musik kelaparan. Kepalaku yang digantungi rambut setengah senti terus menahan tangis yang teriakannya semakin keras dan memilukan. Kakiku tetap melangkah dan menapak tanpa alas bahkan sandal jepit sekalipun. Kuhirup udara busuk bercampur sisa solar dari bus yang sopirnya terlalu bersemangat menginjak pedal gas karena diburu setoran dari juragan. Pekikan semangat para marketing  asongan yang merayuku tuk merogoh kocekku semakin dalam, semangat dan ketangkasan mereka membuatku kagum sedikit sungkan akan semangat yang berapi-api tanpa terpengaruh oleh api usia mereka yang  semakin redup. Mataku tertuju pada puluhan bahkan ratusan pemuda pemudi mambawa cawan dan berpakaian mengenaskan yang menyanyikan hymne penderitaan hingga membuat orang disekitarnya melemparkan isi dompetnya, padahal aku tahu pasti bahwa hasil mereka dari cara menipu dengan atas nama iba tersebut jauh melebihi gaji yang kuterima selama setahun. Mual melihatnya!! Bus berhenti dan kakiku melangkah turun saat kulihat penjual koran memampang dagangannya yang sarat akan kabar politik busuk pekat bangsa ini!! Politik, intrik dan sikut sana sini yang makin menemukan angin segar bagi para pelakunya. Sambil duduk terdesak diantara penumpang aku terdiam, pikirku menerawang lama setengah jauh. Ketika para ulama alias brahmana saling meludah satu sama lain dengan atas nama Sang Pencipta. Ludahnya begitu basin dan memuakkan walaupun aku tak sempat menciumnya. Saling memamerkan pakaian putih dan sorban mereka. Pakaian yang memendarkan cahaya berkilau menyilaukan, hingga yang melihat terpaksa menundukkan mata mereka. Aku ingat saat aku dengan kenekatanku ini tanpa permisi merobek baju mereka itu. Aku terkejut, karena dibalik baju dan sorban mereka, aku melihat ribuan tikus dan kecoak saling berhubungan badan sambil tertawa terbahak-bahak! Tak sadar aku memuntahkan kembali gado-gado kesukaanku saat aku mencium bau busuk yang melebihi busuknya ketiak Iblis!! Seketika segala rasa sungkan, respect dan apalah itu namanya, luntur habis tak tersisa. Tatkala aroma kemunafikan menyengat dan memukuli hidungku. Aku ingat saat itu. Aku ingat. Lekat. Amat sangat lekat. Saat aku ingin muntah karena teringat baunya saja, kondektur berteriak-teriak kesetanan mengungatkan aku untuk bersiap turun. Setengah melompat tapi tidak memakai bumbu berguling, aku turun dari bus penuh karat itu. Lambaian tangan dan senyum paling lebar kumainkan menyambut pijakan kakiku di ladang tembok megah tempatku mengabdi pada negara ini agar  aku bisa mencukupi rengekan raga busuk ini. Sedikit aku memicingkan mata tuk bersiap melihat dan melihat lagi ironi pada hari ini. Ironi yang terpaksa aku lihat setiap hari.. Semoga ironi ini cepat berakhir.. Doamu saudaraku.. Semoga bangsa ini kembali menemukan sikap dan cita-cita luhur para leluhur.. Amin..

Embun Pagi

Januari 7, 2009

Pentjarian

Pentjarian

Perlahan kubuka mata yang penuh dengan upil mata ini, ketika jemari halus mengelus-elus dadaku yang telanjang. Aku masih terbawa sisa-sisa mimpi semalam. Sayup-sayup kudengar suara merdu  bidadari surga firdaus yang sedikit mendesah diiringi dengan senyumnya yang khas.  Wajahnya yang dibungkus rukuh warna hijau daun, memaksaku segera bangun walau saat kulihat jendela, langit masih gelap. Segelap warna-warni kehidupan ini. Warna-warni monopoli satu warna saja.. Hitam. Seribu kali bahkan mungkin sejuta kali, tak bosannya dia selalu menggelar sajadah yang wangi untukku, namun tak aku gubris, melirikpun tidak. Memang dasar Pria Dengan Kepala Batu. Karena kurasa Tuhan tak butuh persembahan. Dia begitu Agung, begitu Kasih, begitu Damai. Tuhan tak berharap apapun. Apalagi dari aku yang hina ini. Setiap aku melihat orang berdoa, aku selalu melihat mereka mendongak ke atas dan menengadahkan tangan mereka. Bahkan seluruh duniapun melakukannya bila ia sedang berdoa. Aku rasa, kepala mendongak  menandakan bahwa mereka kira Tuhan ada diatas. Tangan menengadah menandakan mereka mengira Tuhan akan memberikan sesuatu layaknya mahklukNya. Dan yang lebih fatal lagi, mendongak dan menengadah menandakan mereka mengira-ngira/mendeskripsikan bentuk Tuhan!! Orang Jawa mengatakan “Pangeran ngono, adoh tanpa wates, cedhak tanpa senggolan”. Artinya : Tuhan itu jauh tanpa batas, dekat tanpa bersentuhan. Suatu bahasa yang menurut saya perfect. Mungkin karena inilah banyak yang menganggap Pria Dengan Kepala Batu tak berTuhan. Salam damai…

Tentang Tanah Airku

November 2, 2008
Idealisme hanya untuk LELAKI SEJATI!!

Idealisme hanya untuk LELAKI SEJATI!!

Malam itu aku berjalan kedinginan, sambil menghindar dari berondongan airmata tangisan langit yang seakan mencurahkan kegundahan hatinya akan carut-marutnya situasi alam saat ini.

Tiba-tiba aku dikagetkan akan jerit pekik sekelompok putra-putri “Ibuku” yang meneriakkan simbol-simbol kebenaran dan nama Tuhan. Tangan kirinya berlumur darah, tangan kanannya menghunus pedang yang berujung bengkok serta membara kuning merah panas. Dadaku terasa sesak tersedak asap pedangnya yang terbakar amarah kebencian. Aku berulangkali ingin muntah karena mencium aroma mulutnya yang selalu berteriak bagaimana suci dan benarnya dia. Bagaimana Tuhan merestui setiap darah yang mereka tumpahkan di tubuh “Ibuku” tercinta ini. Tak terasa airmataku menetes menyatu dengan airmata langit yang seakan melubangi tubuhku yang semakin ringkih ini. Kurasa..

Aku palingkan wajahku. Aku melihat sekelompok putra-putri Ibuku yang kulihat wajahnya penuh kekecewaan berusaha merobohkan pagar “Ibuku”. Aku berteriak lantang keras menggelegar, “JANGAAAN!!” Tapi mereka semakin menggoyang keras dan “KRIIET” miringlah pagar tersebut. Aku berlari tuk menahan agar pagar tersebut tetap tegak dan berwibawa. Sambil menahan dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki, aku bertanya kepada mereka, “mengapa kalian melakukan ini?” Tuk sesaat mereka menghentikan gempurannya, dan tanpa berucap, mereka menunjuk ke sebuah bangunan.

Darahku terkesiap! Sekelompok orang gendut yang susah bernafas berebut menghisap darah “Ibuku!” . Bentuknya pun bermacam-macam. Ada yang hitam ada yang putih. Ada yang besar ada yang kecil. Ada yang tinggi ada yang pendek. Ada tua ada muda. Pria dan wanita. Pokoknya berbagai jens. Bahkan diantaranya adalah putra-putrinya sendiri. Tapi mereka semua punya kesamaan. Gendut dan susah bernafas. Mungkin udara pun malas masuk ke paru-paru mereka. “Ibuku” makin tak berdaya akan hisapan orang-orang itu. Saat “Ibu” melenguh kesakitan, mereka tertawa makin keras. Putra mana yang hanya diam bila Ibunya disakiti? Serta merta aku berusaha menghentikan mereka. Mulai lewat tendangan, pukulan bahkan apa yang berada didekatku aku lemparkan. Apa daya.. Tembok mereka terlalu kuat perkasa bagi tenagaku yang payah ini. Aku berpikir.. Aku butuh bantuan!

Aku berteriak keras. TOLONG!!! TOLONG IBU!! Tapi bantuan dari putra-putrinya yang kuharapkan tak kunjung datang. Mereka terlalu masyuk mendengar dentuman musik disco sambil menari dansa. Lupa akan budaya Ibunya. Lupa dengan karya leluhurnya. Bahkan mereka justru menertawakanku yang berkelojotan lumpur tak berdaya dengan pakaian sobek berlumur darah jingga. Beberapa meludahi mukaku yang berjuang mati-matian membela Ibu mereka. Ibu kita semua.

Dalam keputus asaan, sayup-sayup aku mendengar tawa hina riang yang aku yakin bukan dari putra Ibuku. Dan, benar! Tetangga Ibuku menertawakan aku. Menertawakan semua putra-putri Ibuku. Yang lebih menyakiti hatiku, mereka kentut di wajah Ibuku secara terang-terangan. Airmataku jatuh semakin deras. Melebihi derasnya hujan malam ini. Teriakan amarahku semakin keras. Melebihi guntur yang menggelegar malam ini.

Aku telentang…
Aku menangis..

Adakah diantara saudara-saudariku yang tergugah jiwanya..
Adakah diantara saudara-saudariku yang kembali meluap-luap semangatnya..
Adakah diantara saudara-saudariku yang terbakar amarahnya..

Mari bantu aku tuk selamatkan IBU KITA TERCINTA..